Banyak akal dan cara bisa ditempuh untuk memfasilitasi perubahan sosial. Salah satunya adalah Film sebagai media belajar dan pendidikan interaktif rakyat di desa. FIRD memilih media sebagai sarana pendidikan transformasi social.
Di berbagai tempat media mema-inkan peran penting dalam penyampaian informasi. Media seperti radio, tv, Koran telah digunakan sebagai sarana pendidikan masyarakat. Alat menyampaikan pesan kepada pendengar. Masyarakat tradisional juga sudah biasa menggunakan media sebagai alat penyampaian pesan-pesan moral.
Berbagi pengalaman interaksi antar-komunitas kampung demi keutuhan warga Lamaholot di Flores dan Lembata
Minggu, 28 Juni 2009
Radio Komunitas Merangkai Mbuli-Jopu
Ini ceritera kreatif para CO di Kecamatan Wolowaru. Dalam program rehabilitasi berbasis masyarakat, kempat desa ini diorganisir dalam satu kawasan. Namanya Mbuli—Jopu yang tersebar di empat desa: Jopu, Wolokoli, Mbuli dan Nakambara. Untuk memudahkan sosialisasi dan advokasi hak-hak penyandang cacat, para CO di keempat desa ini sepakat memilih Radio sebagai salah satu alat atau media komunikasi dan kampanye.
Setelah mendiskusikan rencana ini pada akhir tahun 2008 dalam sebuah pertemuan dengan FIRD, maka mengudaralah di kawasan Mbuli-Jopu Radio Komunitas (Rakom) “Lintas Mbuli - Jopu”.
Mengadvokasi Kecacatan
Untuk semakin memperkokoh sikap kepedulian terhadap dunia kecacatan di Kabupaten Ende, bertempat di aula pertemuan FIRD Jln. Kokos Raya, Ende belum lama ini dilangsungkan stakeholders meeting.
Pertemuan yang lebih bersifat diskusi terfokus yang difasilitasi staf FIRD Vinsen Simau dan Relawan FIRD Rafael Mingu itu hendak mendalami berbagai pengalaman dan melahirkan gagasan pengelolaan dan pengurangan resiko kecacatan di kabupaten Ende.
Pertemuan yang lebih bersifat diskusi terfokus yang difasilitasi staf FIRD Vinsen Simau dan Relawan FIRD Rafael Mingu itu hendak mendalami berbagai pengalaman dan melahirkan gagasan pengelolaan dan pengurangan resiko kecacatan di kabupaten Ende.
Posyandu: Antara Harapan dan Kenyataan
Setelah megelilingi tiga kawasan program Rehabilitasi Kecatatan Berbasis Masyarakat (RBM) di Kabupaten Ende, sejumlah catatan menarik sempat terekam. Perjalanan di bulan Mei ke Ndetundora, Wolowaru dan Lio Timur untuk memfasilitasi peningkatan partisipasi masyarakat dan para pihak dalam pengurangan resiko kecacatan.
Kabupaten Ende dengan sarana dan prasarana yang serba minim, masyarakat sangat mengharapkan kehadiran tenaga kesehatan di sana. Bidan Desa (Bides) dan Posyandu paling dekat dengan rakyat.
Tiga kawaasan yang dikunjungi adalah kawasan Ndetundora yang meliputi desa Ndetundora I, Ndetundora II, Ndetundora III dan desa Randotonda; kawasan Wolowaru yang meliputi desa Jopu, Nakambara, Wolokoli, Mbuli Loo; dan kawaan Lio Timur yang meliputi desa Woloaro, Wolosambi dan Kelurahan Watuneso.
Kabupaten Ende dengan sarana dan prasarana yang serba minim, masyarakat sangat mengharapkan kehadiran tenaga kesehatan di sana. Bidan Desa (Bides) dan Posyandu paling dekat dengan rakyat.
Tiga kawaasan yang dikunjungi adalah kawasan Ndetundora yang meliputi desa Ndetundora I, Ndetundora II, Ndetundora III dan desa Randotonda; kawasan Wolowaru yang meliputi desa Jopu, Nakambara, Wolokoli, Mbuli Loo; dan kawaan Lio Timur yang meliputi desa Woloaro, Wolosambi dan Kelurahan Watuneso.
PROBLEM GENDER DAN KEADILAN PETANI MENTE DI FLORES TIMUR
Oleh Melky Koli Baran

Mengapa pada sistem multikultur ketahanan pangan petani cukup aman dan peran perempuan cukup mendapat tempat, lalu pada masa sistem monokultur justru sering terjadi ancaman ketahanan pangan dan gizi buruk?
Pengantar
Umumnya strandar-standar ukuran kemiskinan mengacu pada fariabel ekonomi dengan kesalahan terbesar pada aspek nature. Kurang meyentuh struktur dan kultur. Pembangunan juga direkayasa untuk mencegah, mengurangi dan mengatasi kemiskinan. Kemudian ada fakta bahwa lajunya kemiskinan justru berkejaran dengan gencarnya pembangunan. Mengapa? Di sinilah, problem kemiskinan bukan cuma problem ekonomi dengan titik berat kesalahan pada nature. Ada problem struktur dan kultur, yang berpeluang pada terjadinya ketidakadilan Gender. Basis studi kasus yang menginspirasi tulisan ini adalah petani Flores Timur yang telah mengalami pergeseran struktur dan kultur pertanian dari pertanian multikultur (keanekaragaman tanaman) ke tanaman monokultur jambu mete.

Mengapa pada sistem multikultur ketahanan pangan petani cukup aman dan peran perempuan cukup mendapat tempat, lalu pada masa sistem monokultur justru sering terjadi ancaman ketahanan pangan dan gizi buruk?
Pengantar
Umumnya strandar-standar ukuran kemiskinan mengacu pada fariabel ekonomi dengan kesalahan terbesar pada aspek nature. Kurang meyentuh struktur dan kultur. Pembangunan juga direkayasa untuk mencegah, mengurangi dan mengatasi kemiskinan. Kemudian ada fakta bahwa lajunya kemiskinan justru berkejaran dengan gencarnya pembangunan. Mengapa? Di sinilah, problem kemiskinan bukan cuma problem ekonomi dengan titik berat kesalahan pada nature. Ada problem struktur dan kultur, yang berpeluang pada terjadinya ketidakadilan Gender. Basis studi kasus yang menginspirasi tulisan ini adalah petani Flores Timur yang telah mengalami pergeseran struktur dan kultur pertanian dari pertanian multikultur (keanekaragaman tanaman) ke tanaman monokultur jambu mete.
Senin, 23 Maret 2009
PENGURANGAN RISIKO BENCANA BERBASIS MASYARAKAT
Kabupaten Ende ada di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sini terdapat Danau tiga warnah. Tepatnya di tiga kawah puncak gunung berapi Kelimutu. Danau yang juga menjadi salah satu keajaiban alam dunia. Memiliki luas kurang lebih 204.660 ha. 55,932 ha di antaranya lahan pertanian. Mayoritas penduduk tinggal di desa-desa sebagai petani lahan kering dan sedikit lahan basah. Curah hujan sangat minim, berkisar antara 250-900 mm/tahun, dengan rata-rata 20-90 hari hujan per tahunnya. Namun demikian, sektor pertanian menyumbang terbesar bagi PDRB yang mencapai 31,53%. Pendapatan perkapita antara penduduk pedesaan dan kota sekitar 1:4.
Pemerintahan Kabupaten Ende meliputi 20 kecamatan dengan cakupan 192 desa dan 22 kelurahan. Total penduduknya 259,394 jiwa dengan kepadatan penduduk 122 jiwa/km2. Pertumbuhan penduduk mencapai 1,48%.
***
Pemerintahan Kabupaten Ende meliputi 20 kecamatan dengan cakupan 192 desa dan 22 kelurahan. Total penduduknya 259,394 jiwa dengan kepadatan penduduk 122 jiwa/km2. Pertumbuhan penduduk mencapai 1,48%.
***
Minggu, 22 Maret 2009
MENGURANGI BANJIR DAN LONGSOR, NDUNGGA MENANAM
Ndungga, kampung yang porak poranda dihajar banjir bandang 2003 silam. Kampung ini sering dikunjungi dalam diskusi-diskusi FIRD dan mitra untuk mendapatkan perspektif Pengurangan Resiko Bencana.
Belajar dari pengalaman longsor dan banjir tahun 2003, masyarakat di kampung ini memandang penting mengamankan kampung dan kehidupannya dari resiko bencana. Konservasi lahan dan kaawasan hutan yang rusak di sekitar kampung menjadi pilihan untuk dilakukan. Untuk hal ini maka telah memetakan titik-titik rawan longsor jika hujan berlebihan. Titik-titik rawan longsor dan banjir yang diperkirakan akan membawa resiko bagi kehidupan di kampung itu. Titik-titik rawan itu harus dikonservasi. Itulah keputusan bijhak warga Ndungga.
Rabu, 11 Maret 2009
MENYONGSONG ERA SOEHARTO BABAK II
Oleh George Junus Aditjondro
Keluarga Cendana, sekarang, terang-terangan berdiri di belakang Gerindra, yang mencalonkan Letjen (Purn) Prabowo Subianto sebagai presiden RI yang ke-7. Ini diungkapkan, Jumat (6/3), di depan massa di muka rumah orangtua Soeharto di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, oleh Probosutedjo, adik tiri Soeharto, yang sering menjadi juru bicara keluarga Cendana.
Probosutejo sudah pernah mengeluarkan pernyataan serupa, yang kontan ditanggapi mantan Ketua MPR Amien Rais, waktu itu. Menurut Amien, dukungan Cendana malah merugikan Prabowo, karena akan mempersempit dukungan bagi dia (Okezone, 23/1).
Mengapa?
Selasa, 10 Maret 2009
DILEMA KEMATIAN ROMO FAUSTIN DAN HABITUS BARU
Oleh Melky Koli Baran
Padang rumput Denah Biko, kelurahan Olakile, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur jadi saksi sejarah. Satu lagi sejarah tampilan aparat yang belum profesional. Sejarah itu tercatat Senin 13 Oktober 2008.
Bulan Oktober yang terik dan panas untuk alam Flores. Di padang nan terik itulah romo Faustin Sega ditemukan tergeletak kaku. Lalu secara dini dan tergesah-gesah Polres Ngada dengan dukungan visum Rumah Sakit Bajawa membuat pernyataan final dan pasti bahwa Romo Faustin mati wajar. Sebabnya adalah serangan jantung. Polisi dan dokter Rumah Sakit, dua otoritas profesional telah membuat keputusan yang tergesah-gesah, tidak cermat, sangat keliru dan karena itu tidak profesional. Keputusan keliru dan fatal atas nyawah manusia, dan karena itu pula menjadi keputusan yang tidak berenurani dan tidak bertanggungjawab secara manusiawi.
Minggu, 08 Maret 2009
ADONARA BARAT DAN SENANDUNG "TANAH SURGA"
Perjalanan dari Waiwadan ibu kota Kecamatan Adnara Barat menuju desa Wato Baya Kecamatan Adaonara Tengah |
Oleh Melky Koli Baran
Dekade 1970-an, tenar di belantara musik Indonesia lagu Koes Plus Kolam Susu. “Bukan lautan hanya kolam susu/kail dan jala cukup menghidupimu/tiada badai tiada topan kau temui/ikan dan udang menghampiri dirimu/orang bilang tanah kita tanah surga/tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.
Tanggal 26 Pebruari 2009. Hari masih pagi dan berembun. Udara pagi yang basah itu dibaluti kabut yang setia bertengger di puncak bukit belakang desa Wato Baya Kecamatan Adonara Tengah.
Di bawah rimbunan aneka pohon tanaman komoditi pera petani, langkah kaki menelusuri tanah yang basah dan becek. Hujan sejak malam hingga pagi menyisahkan titik-titik air yang jatuh teratur satu persatu di antara dedaunan pohon kakao lalu menyelinap masuk ke dalam timbunan daun-daun kering yang lembab dan basah.
Langganan:
Postingan (Atom)