Suatu pagi seperti hari-hari sebelumnya mereka pergi mengiris tuak bersama, setelah mengiris tuak timbul niatan Lewodawan untuk menunjukan kesaktiaanya kepada Lewodawan. Lewodawan setelah mengiris tuak berteriak kepada Lewotaka. “Lewotaka, lihat di sini ada seekor rusa!” Terlihatlah seekor rusa yang keluar dari segerombolan semak dibawah pohon tuak dimana Lewodawan mengambilnya.
Dalam hati Lewotaka ini kesempatan untuk menunjukkan kesaktiannya memanah kepada Lewodawan. Tanpa berfikir panjang mengeluarkan panah dan mengarahkan anak panah rusa. Panah meluncur kearah tepat menghujam jantung rusa dan rusa tergelatak mati. Melihat rusa tergeletak sekjap itu pula Lewotaka bergegas lari menghampirinya, namun setelah dekat alangkah terkejutnya Lewotaka setelah sampai dilokasi dimana rusa tadi berada, dengan melihat Lewodawan terbujur kaku tertembus busur panah tepat di jantungnya.
Berbagi pengalaman interaksi antar-komunitas kampung demi keutuhan warga Lamaholot di Flores dan Lembata
Selasa, 04 Agustus 2009
SEJENAK DENGAN DESA LAMAU, ILE APE, LEMBATA
Ceritera Pengamatan 24-26 MEI 2007
DISKRIPSI WILAYAH LAMAU
Desa Lamau merupakan salah satu desa dikecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata. Wilayah ini merupakan dataran rendah yang menjorok kelaut. Sebelah barat berbatasan dengan desa Aulesa, sebelah timur berbatasan dengan Lamatokan, sebelah utara berbatasan dengan laut dan sebelah selatan berbatasan dengan gunung Ilie Ape. Desa ini dihuni 80 KK, dengan jumlah penduduk sekitar 200 jiwa. Tata ruang desa ini terbagi dalam 4 zona besar tangkapan air dilereng gunung Ilie, pemukiman, lahan pertanian dan pantai.
DISKRIPSI WILAYAH LAMAU
Desa Lamau merupakan salah satu desa dikecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata. Wilayah ini merupakan dataran rendah yang menjorok kelaut. Sebelah barat berbatasan dengan desa Aulesa, sebelah timur berbatasan dengan Lamatokan, sebelah utara berbatasan dengan laut dan sebelah selatan berbatasan dengan gunung Ilie Ape. Desa ini dihuni 80 KK, dengan jumlah penduduk sekitar 200 jiwa. Tata ruang desa ini terbagi dalam 4 zona besar tangkapan air dilereng gunung Ilie, pemukiman, lahan pertanian dan pantai.
Kamis, 30 Juli 2009
MODEL PHBM DIKUNJUNGI PETANI LUAR NTT
Siapa yang menduga jika model Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat yang baru seumur jagung dilaksanakan di Kabupaten Flores Timur itu mendapat perhatian untuk dikunjungi?
Adalah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang sejak 2006 memfasilitasi program Free Prior Informed Concent (FPIC) di tiga komunitas. Komunitas Kuntu di Kabupaten Kampar Propinsi Riau, komunitas Lusan di Kabupaten Paser, Propinsi Kalimantan Timur dan komunitas Lewolema di Kabupaten Flores Timur. Ketiga komunitas ini menjadi lokasiproyek pengembangan negosiasi pengelolaan hutan yang menjunjung tinggi hak-hak masyarakat adat sebagai yang utama.
Adalah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang sejak 2006 memfasilitasi program Free Prior Informed Concent (FPIC) di tiga komunitas. Komunitas Kuntu di Kabupaten Kampar Propinsi Riau, komunitas Lusan di Kabupaten Paser, Propinsi Kalimantan Timur dan komunitas Lewolema di Kabupaten Flores Timur. Ketiga komunitas ini menjadi lokasiproyek pengembangan negosiasi pengelolaan hutan yang menjunjung tinggi hak-hak masyarakat adat sebagai yang utama.
LEBIH DEKAT DENGAN PHBM DI FLORES TIMUR
Melalui Dinas Kehutanan dan Perekebunan Kabupaten Flores Timur, dialokasikan dukungan melalui APBD untuk memfasilitasi Program Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat yang dikenal dengan PHBM. Di lapangan, program ini difasilitasi oleh sebuah forum yang beranggotakan para pihak baik pemerintah kabupaten, LSM, Petani, Masyarakat Adat dan mitra-mitra lainnya. Forum ini difasilitasi pembentukannya oleh Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) bekerja sama dengan Multi Forestry Program (MFP) DFID dan dinas Kehutanan Perkebunan Kabupaten Flores Timur.
Risala Pembentukan Forum Kehutanan Multipihak Kab. Flores Timur, NTT
![]() |
Peserta semiloka pembentukan forum kehutanan multipihak |
Siaran Pers: Semiloka Pembentukan Forum Kehutanan Multipihak Kab. Flotim, NTT
![]() |
Bupati Flores Timur Simon Hayon dan para peserta berfoto saat peresmian forum |
SEMILOKA PEMBENTUKAN FORUM KEHUTANAN MULTIPIHAK
Sekretariat Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Waibalun
SIARAN PERS
SEMILOKA PEMBENTUKAN FORUM KEHUTANAN MULTIPIHAK
KABUPATEN FLORES TIMUR
DI RIANGKEMIE 1-3 OKTOBER 2006
Tanggal 2 Oktober 2006 telah dibuka Semiloka Pembentukan Forum Kehutanan Multipihak di Kabupaten Flores Timur oleh Bapak Bupati Kabupaten Flores Timur, dihadiri 45 orang peserta dari utusan masyarakat, LSM dan Instansi Pemerintah. Berdasarkan catatan panitya hingga hari terakhir lokakarya tanggal 3 Oktober, peserta yang hadir sebanyak 32 orang dari unsur Masyarakat Adat, tiga orang Kepala Desa dari Komunitas Baipito, utusan LSM anggota Tim Kerja Kehutanan Multipihak, utusan dinas-dinas terkait dan panitya.
Sekretariat Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Waibalun
SIARAN PERS
SEMILOKA PEMBENTUKAN FORUM KEHUTANAN MULTIPIHAK
KABUPATEN FLORES TIMUR
DI RIANGKEMIE 1-3 OKTOBER 2006
Tanggal 2 Oktober 2006 telah dibuka Semiloka Pembentukan Forum Kehutanan Multipihak di Kabupaten Flores Timur oleh Bapak Bupati Kabupaten Flores Timur, dihadiri 45 orang peserta dari utusan masyarakat, LSM dan Instansi Pemerintah. Berdasarkan catatan panitya hingga hari terakhir lokakarya tanggal 3 Oktober, peserta yang hadir sebanyak 32 orang dari unsur Masyarakat Adat, tiga orang Kepala Desa dari Komunitas Baipito, utusan LSM anggota Tim Kerja Kehutanan Multipihak, utusan dinas-dinas terkait dan panitya.
TRAFFICKING BUKAN MITOS
Hampir setiap minggu koran lokal di NTT, khususnya Pos Kupang di Kupang dan Flores Pos di Ende menyuguhkan berita-berita kasus ketenagakerjaan, khususnya buruh migrant. Seperti penggagalan pengiriman TKI/W di pelabuhan-pelabuhan (Maumere, Ende, Lewoleba dan Kupang). Juga kisah penipuan dan pemerasan tenaga kerja yang pulang ke kampung halaman.
Bahkan di depan pintu masuk rumah sendiri masih ditipu oleh para sopir dan calo penumpang bus. Bahkan daerah ini pernah heboh dengan kisah penganiayaan Nirmala Bonat asal NTT di Malaysia yang penegakkan hukumnya hingga kini belum jelas. Itu salah satu kasus yang berhasil mencuat. Apakah hanya satu kasus ini? Ataukah masih ada kasus serupa namun lolos dari perhatian?
Minggu, 28 Juni 2009
Rekam Jejak Penyuluhan di Desa
Selama 19-25 Mei 2009 tim program Penca FIRD berkeliling ke tiga kawasan pelaksanaan program di Lio Timur, Wolowaru dan Ndetundora. Tour keliling ini untuk penyuluhan ke desa-desa (ha ha.. kentalnya Orde Baru..). Tema penyuluhan yang diusung juga menarik: “Posyandu Sebagai Ujung Tombak Pengurangan Resiko Kecacatan”.Namanya penyuluhan, ternyata dari rekam jejak lapangan, lebih berbentuk diskusi partisipatif bersama masyarakat untuk memotret posyandu selama ini dan apa gagasan pengembangan ke depan yang memberi perspektif pengurangan resiko kecacatan.
Kemiskinan dan Kecacatan

Ada aneka sebab terjadinya kecacatan pada seseorang. Dalam banyak kasus, kecacatan sangat dekat dengan situasi kemiskinan. Kondisi kemiskinan yang berpengaruh pada pola hidup keluarga-keluarga sehingga menyebabkan kecacatan dalam keluarga. Misalnya anak lahir cacat atau pertumbuhan tidak normal setelah lahir karena faktor kemiskinan.
Ada dua kategori kecacatan menurut penyebabnya. Pertama, cacat bawaan. Anak cacat sejak dalam kandungan. Kurang gizi pada ibu hamil bisa berakibat anak lahir cacat. Atau karena gangguan penyakit atau metabolism. Orang miskin tentu sulit mengatasi hal ini karena keterbatasan biaya. Maka kebijakan pemereintah mengurangi kecacatan harusnya mulai dan bersinergi dengan mengurangi kemiskinan. Posyandu selalu menyediakan asupan guzi tambahan dan vitamin bagi anak atau ibu hamil setiap bulan. Karena itu pula maka makanan tambahan di posyandu perlu dikontrol agar sungguh memenuhi syarat kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan maupun anak-anak balita. Jangan ada usaha cari keuntungan.
Mengembangkan Ekonomi Keluarga Penca
![]() |
| Bapak Bernardus Biru dan Novi di Kios |
Ini ceritera pengalaman keluarga penyandang cacat dari Watuneso. Bernardus Biru dan Margareta Nuli, suami istri anggota kelompok orang tua penca.
Keluarga Penca diorganisir untuk pengembangan Ekonomi. Keluarga Bernardus adalah salah satunya. Dari kelompok ini Bernardus mendapatkan pinjaman modal usaha.
Keluarga ini punya anak cacat, namanya Novita biru (19 tahun). Cacat mental dan fisik. Ia pernah 3 minggu sekolah di SLB Ende.
Brnardus memiliki lima orang anak. Keluarga ini beranggotakan tujuh orang. Kondisi ekonomi keluarga pas-pas-an. Rumah tinggal beratap ilalang. Dibangun di atas tanah bukan miliknya.
Langganan:
Postingan (Atom)


