Oleh Melky Koli Baran
Tanggal 17 Agustus 2014, darah membasahi tanah
Wulandoni. Tanah ini pernah jadi saksi masa lalu tentang eksistensi dua
kelompok manusia di Selatan pulau Lembata. Kelompok yang mendiami wilayah di
Timur – arah matahari terbit di atas tanjung Atadei, dan yang mendiami wilayah
di sebelah Barat – arah matahari terbenam di lengan kiri gunung Labalekan dan
sekitarnya sampai Lewuka. Di tanah ini juga, aneka manusia dari pantai dand ari
gunung setiap hari Sabtu di pasar barter yang dinaungi sejumlah pohon asam yang
teduh. Setelah terjadi pemekaran kecamatan di kabupaten Lembata maka sebagian
desa di kecamatan Nagawutung yang mengelilingi gunung Labalekan dan sebagian
lagi desa di kecamatan Atadei “digabungkan” ke dalam satu kecamatan baru, yakni
Wulandoni.