OLeh Melky Koli Baran
Albert Sani Sogen, aktivis Yayasan Ayu Tani, Flores Timur berceritera tentang sebuah percakapan dengan anaknya yang masih kecil, sedang duduk di bangku Sekolah Dasar. Setiap hari ke sekolah anaknya meminta uang jajan 2000 rupiah. Suatu malam, Albert bertanya kepada anaknya. Uang 2000 rupiah tiap hari itu digunakan untuk apa? Anak menjawab, untuk beli makanan atau jajanan di sekolah, seperti kerupuk.
Berbagi pengalaman interaksi antar-komunitas kampung demi keutuhan warga Lamaholot di Flores dan Lembata
Sabtu, 03 Maret 2012
Senin, 27 Februari 2012
Di Pelabuhan Larantuka
Oleh Melky Koli Baran
Langit cerah. Tak semendung malam-malam sebelumnya di awal 2012. Gonsalu, selat kecil antara Larantuka dan Adonara Barat bagai hamparan permadani biru kelam. Sesekali melesat percikan kemilau pantulan cahaya rembulan dari permukaan laut. Di ujung belokan pantai Wureh, bergerak lampu terang benderang. Perlahan hanyut diayun arus gonsalu. Bagai sebuah hotel terapung. Kapal Tidar milik Pelni. Kapal yang kesekian menyambangi para penumpang yang selalu berjubel di pelabuhan Larantuka. Siap bepergian ke tanah seberang.
Pelabuhan Larantuka di Flores Timur menjadi salah satu pintu masuk pulau Flores. Pelabuhan ini sudah sangat lama ada, dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Melalui plabuhan inilah, mobilitas manusia setiap hari belangsung. Selain kapal Pelni yang datang dan pergi setiap dua minggu, setiap hari kapal-kapal antar pulau di Flores Timur masuk dan keluar. Mulai dari kapal ukuran kecil untuk menyeberangkan penumpang dan kendaraan roda dua ke pulau adonara dengan jarak tempuh 7-10 menit hingga kapal-kapal penumpang dan barang ukuran besar untuk antar pulau dalam kabupaten, proponsi bahkan antar propinsi. Malah sudah beroperasi setiap hari dua unit kapal cepat yang melayani penumpang Larantuka-Lewoleba dan sebaliknya.
Untuk urusan kenyamana bepergian ke luar NTT melalui pelabuhan laut Larantuka, sejak tahun 1990 beroperasi silih berganti sejumlah kapal Pelni. Mulai kapal Sirimau, Tatamailau, Kelimutu, Awu, Bukit Siguntang, bahkan saat ini telah beroperasi kapal Tidar. Kapal-kapal ini menyeberangkan para penumpang dari Larantuka menuju Kupang, Makasar, Batu Licin, Semarang, Jakarta, bahkan ke wilayah perbatasan RI seperti Batam di Sumatera dan Nunukan di Kalimantan.
Langit cerah. Tak semendung malam-malam sebelumnya di awal 2012. Gonsalu, selat kecil antara Larantuka dan Adonara Barat bagai hamparan permadani biru kelam. Sesekali melesat percikan kemilau pantulan cahaya rembulan dari permukaan laut. Di ujung belokan pantai Wureh, bergerak lampu terang benderang. Perlahan hanyut diayun arus gonsalu. Bagai sebuah hotel terapung. Kapal Tidar milik Pelni. Kapal yang kesekian menyambangi para penumpang yang selalu berjubel di pelabuhan Larantuka. Siap bepergian ke tanah seberang.
Pelabuhan Larantuka di Flores Timur menjadi salah satu pintu masuk pulau Flores. Pelabuhan ini sudah sangat lama ada, dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Melalui plabuhan inilah, mobilitas manusia setiap hari belangsung. Selain kapal Pelni yang datang dan pergi setiap dua minggu, setiap hari kapal-kapal antar pulau di Flores Timur masuk dan keluar. Mulai dari kapal ukuran kecil untuk menyeberangkan penumpang dan kendaraan roda dua ke pulau adonara dengan jarak tempuh 7-10 menit hingga kapal-kapal penumpang dan barang ukuran besar untuk antar pulau dalam kabupaten, proponsi bahkan antar propinsi. Malah sudah beroperasi setiap hari dua unit kapal cepat yang melayani penumpang Larantuka-Lewoleba dan sebaliknya.
Untuk urusan kenyamana bepergian ke luar NTT melalui pelabuhan laut Larantuka, sejak tahun 1990 beroperasi silih berganti sejumlah kapal Pelni. Mulai kapal Sirimau, Tatamailau, Kelimutu, Awu, Bukit Siguntang, bahkan saat ini telah beroperasi kapal Tidar. Kapal-kapal ini menyeberangkan para penumpang dari Larantuka menuju Kupang, Makasar, Batu Licin, Semarang, Jakarta, bahkan ke wilayah perbatasan RI seperti Batam di Sumatera dan Nunukan di Kalimantan.
Rabu, 15 Februari 2012
TERGUSURNYA KEANEKARAGAMAN PANGAN LOKAL
Melky Koli Baran
Bulan Oktober tahun 2011 silam. Sebuah hajatan tentang Pangan digelar sejumlah elemen masyarakat sipil. Malah berhasil menggandeng Pemda setempat. Motornya adalah Yayasan Pengkajian dan pengembangan Sosial (YPPS) yang mendapat dukungan dari Yayasan Tifa di Jakarta. Di tingkat lokal, YPPS juga brhasil menggandeng Delegatus Socialis/Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (Delsos/PSE) Keuskupan Larantuka.
Bulan Oktober tahun 2011 silam. Sebuah hajatan tentang Pangan digelar sejumlah elemen masyarakat sipil. Malah berhasil menggandeng Pemda setempat. Motornya adalah Yayasan Pengkajian dan pengembangan Sosial (YPPS) yang mendapat dukungan dari Yayasan Tifa di Jakarta. Di tingkat lokal, YPPS juga brhasil menggandeng Delegatus Socialis/Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (Delsos/PSE) Keuskupan Larantuka.
Senin, 18 Juli 2011
Quo
Vadis Lembata
Oleh Melky Koli Baran
Saat ini kabupaten Lembata sedang siap
memasuki Pemilu Kada (Pilkada) putaran kedua. Paket jagoan Golkar dan
PDIP yang lolos ke putaran kedua ini. Golkar mengusung moto “Untuk
Lembata Yang Lebih Baik” sedangkan PDIP populer dengan sebutan
“Lembata Baru”. Lembata yang Baru tentulah Lembata yang Lebih
Baik dari hari ini. Dan Lembata yang Lebih Baik dari hari ini adalah
Lembata yang Baru, yang tentunya jauh berbeda dengan Lembata 10 tahun
silam. Artinya, selama sepuluh tahun otonomi setelah pisah dari
Flores Timur Lembata masih tetap Lembata yang Lama dan karena itu
belum menjadi Lembata yang Lebih Baik.
Benang
Kusut Pilkada
Oleh
Melky Koli Baran
Di
ruang sidang Mahkama Konstitusi (MK). Peserta sidang duduk berderet.
Mereka berasal dari kabupaten yang sama. Anehnya, mereka tidak saling
bertegur sapa. Suasana dingin dan tegang. Juga terkesan menyelinap
kecurigaan di antara mereka. Di antara mereka ada pegawai negeri
sipil (PNS). Mereka hadir sebagai saksi sidang sengketa Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada) di daerah asal mereka.
Berbeda
dengan pemilihan kepala daerah dalam sistem perwakilan oleh lembaga
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Ketika seorang kepala daerah
dipilih oleh anggota DPRD pada masa Orde Baru, prosesnya sangat
sederhana dan hemat. Tidak ada kampanye terbuka, tidak ada mobilisasi
masa, tidak ada tim sukses, tidak ada Komisi Pemilihan Umum Daerah
(KPUD), tidak ada sidang sengketa Pilkada di MK dan lain sebagainya.
Seluruh proses menjadi kewenangan partai politik. Ketika mandat
kepada para wakil rakyat diambil oleh rakyat dalam sistem pemilihan
langsung, semuanya menjadi mahal, rumit, sarat masalah dan sengketa.
Pertanyaannya, apakah sistem pemilihan langsung oleh rakyat lebih
buruk dan karena itu kembali saja ke sistem perwakilan?
Sabtu, 04 Juni 2011
Pilkada Bertabur Janji
Oleh Melky Koli Baran
Flores Tumur baru saja mengakhiri hari-hari kampanye terbuka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) periode 2011 hingga 2016. Perhelatan politik lima tahunan di daerah yang sempat tertunda setahun itu memasuki garis finish. Di kabupaten Lembata, perhelatan itu telah berlalu. Di sana, rakyat yang haus akan pemimpin pemberani dalam menghadapi sejuta tantangan dan keterbelakangan yang gagal dibangun dalam masa 10 tahun otonomi daerah itu telah dijejali berbagai janji para kandidat. Akhir pertarungan itu belum mnembuahkan hasil. Lalu kalau tidak salah, aaat ini sedang siap juga kabupaten Rote Ndao.
Flores Tumur baru saja mengakhiri hari-hari kampanye terbuka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) periode 2011 hingga 2016. Perhelatan politik lima tahunan di daerah yang sempat tertunda setahun itu memasuki garis finish. Di kabupaten Lembata, perhelatan itu telah berlalu. Di sana, rakyat yang haus akan pemimpin pemberani dalam menghadapi sejuta tantangan dan keterbelakangan yang gagal dibangun dalam masa 10 tahun otonomi daerah itu telah dijejali berbagai janji para kandidat. Akhir pertarungan itu belum mnembuahkan hasil. Lalu kalau tidak salah, aaat ini sedang siap juga kabupaten Rote Ndao.
Jumat, 06 Mei 2011
Melawan Kebijakan
Oleh Melky Koli Baran
Jumad, 25 aret 2011. Di lingkup pemerintah kabupaten Flores Timur (Flotim) berlangsung pelantikan sejumlah pejabat eselon III dan IV. Dalam catatan waktu sejak peletakan jabatan bupati dan wakil bupati Flotim setahun silam, ini adalah mutasi gelombang kedua. Sebelumnya, penjabat bupati Muhamad S. Wongso telah melantik sejumlah pejabat eselon II.
Oleh Melky Koli Baran
Jumad, 25 aret 2011. Di lingkup pemerintah kabupaten Flores Timur (Flotim) berlangsung pelantikan sejumlah pejabat eselon III dan IV. Dalam catatan waktu sejak peletakan jabatan bupati dan wakil bupati Flotim setahun silam, ini adalah mutasi gelombang kedua. Sebelumnya, penjabat bupati Muhamad S. Wongso telah melantik sejumlah pejabat eselon II.
Jumat, 11 Februari 2011
KEGADUHAN ORIENTASI
Melky Koli Baran
Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Eston Foenay, M.Si) di masa kepemimpinannya ini menggantung orientasi pada kesejahteraan rakyat melalui mekanisme dan politik penganggaran daerah. Tiga pilar andalan menjadi lokomotif penggerak kesejahteraan itu. Dua diantaranya berbasis pertanian, yakni Jagung dan Ternak. Satu lagi basis organisasi perekonomian rakyat, yakni koperasi.
Melky Koli Baran
Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Eston Foenay, M.Si) di masa kepemimpinannya ini menggantung orientasi pada kesejahteraan rakyat melalui mekanisme dan politik penganggaran daerah. Tiga pilar andalan menjadi lokomotif penggerak kesejahteraan itu. Dua diantaranya berbasis pertanian, yakni Jagung dan Ternak. Satu lagi basis organisasi perekonomian rakyat, yakni koperasi.
KEDAULATAN PANGAN
(Yang Tercecer Dari Mubes V Petani Flores)
Oleh Melky Koli Baran
“Petani harus berdaulat”. Begitulah seruan yang terus berulang dari para petani. Padahal masih terdengar lantang ceritera tentang petani minta bibit, pupuk bahkan beras yang berlabel “miskin”. Lasim disebut Raskin. Di satu sisi petani mau berdaulat. Tetapi di masih tergantung pada pihak lain. Meneriakkan kedaulatan pangan di tengah gegap gempita bagi-bagi Raskin.
(Yang Tercecer Dari Mubes V Petani Flores)
Oleh Melky Koli Baran
“Petani harus berdaulat”. Begitulah seruan yang terus berulang dari para petani. Padahal masih terdengar lantang ceritera tentang petani minta bibit, pupuk bahkan beras yang berlabel “miskin”. Lasim disebut Raskin. Di satu sisi petani mau berdaulat. Tetapi di masih tergantung pada pihak lain. Meneriakkan kedaulatan pangan di tengah gegap gempita bagi-bagi Raskin.
Senin, 10 Januari 2011
POTENSI BANJIR DI LARANTUKA
Ramalan yang dirilis BMG akan terjadi potensi bencana di sejumlah tempat. Di kabupaten Flores Timur, demikian BMG, potensi hujan yang bisa berakibat terjadi bencana banjir akan terjadi di kecamatan Larantuka antara bulan Desember 2010 hingga Februari 2011.
Langganan:
Postingan (Atom)